Langsung ke konten utama

Inilah Aku


Di siang yang terik, ada seorang pemuda yang memiliki toko kebutuhan sehari-hari bersama seekor bighalnya (baca: hasil perkawinan silang antara keledai jantan dan kuda betina) yang sedang dalam perjalanan menuju pasar untuk belanja kebutuhan toko. Ia berangkat dari desa Ilang, tempat kediamananya. Namun, herannya  si pemuda tersebut tidak menuggangi bigholnya, akan tetapi jalan di sampingnya. Seorang penduduk melihat hal tersebut dan berujar pada pemuda tersebut,”Aneh, punya bighal malah dibiarin aja. Bukan dimanfaatin, malah dibiarin aja.” Mendengar celoteh tersebut, si pemuda pun memberhentikan langkahnya. Kemudian menunggangi bighalnya.

Setelah keluar dari desa Ilang, sampailah ia di desa Alang.  Salah satu ibu-ibu yang sedang ngerumpi di sudut desa berujar,”Lihat itu! Pemuda yang ngga tahu diri. Bighol kecil malah ditunggangi. Tak berperasaan!” karena mendengar celotehan ibu tersebut, si pemuda pun turun dari bigholnya. Tak harus berbuat apa. Akhirnya si pemuda tersebut membopong bigholnya. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pasar. Belum lagi sampai ke pasar, segerombolan anak kecil mentertawai tingkah laku pemuda yang membopong seekor bighol. Sorak sorai pun tertuju pada sang pemuda. “Woyyy... lihat itu! Ada orang bopong bighol. Hahaha.” Wajah pemuda tersebut pun merona, malu karena disoraki anak-anak tersebut. Tak peduli, akhirnya sang pemuda tetap melanjutkan perjalannnya sambil membopong bigholnya.

Yah, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengetahui kisah tersebut. Namun, apakah selama ini kita telah menangkap pesannya?

Sebagai contoh, jika kamu seorang pemimpin menggunakan pendekatan melayani kepada staffnya, maka akan ada yang berkata,

“Kamu tuh terlalu sabar!”
“ Ayo dong marah!”
“Kamu punya hak untuk itu. Tegas dikit ga papa.”  

Sebaliknya, seorang pemimpin mengggunakan pendekatan tranformasional, mereka akan mendapati hal yang tidak jauh berbeda,

”Kamu itu egois! Coba pikirin yang lain”
“Rupanya kamu hanya melihat hasilnya yah.” Dan sebagainya.

Dilema? Mungkin. Rapuh? Jelas. Tidak jarang di antara kita begitu mudah merubah pendirian lantaran banyak mendengar kritik yang destruktif dari orang lain sehingga kita terlihat plin-plan, tidak kokoh dengan apa yang telah kita bangun di awal. Kita terlihat goyah. Jika demikian, hal tersebut mengindikasikan bahwa kita tidak tepat pada saat menentukan komposisi pondasi di awal. Rapuh, tidak kokoh.

Mari belajar dari karang di lautan. Ia tetap tegar diterpang ombak siang dan malam. Sekeras apa pun, ia tetap berdiri. Mari belajar dari gunung, yang kehadirannya menguatkan bumi. Mari belajar dari baja, yang ketika dihantam berkali-kali ia tetap seperti bentuknya. Hal ini tidak mengajarkan kita untuk keras kepala, tapi untuk kuat dengan pondasi. Percaya dirilah! Apakah bermanfaat jika kita banyak mendengar hal-hal yang melemahkan pendirian kita, padahal mereka bukanlah orang yang membayar tagihan listrik kita, bukanlah orang yang membayar bensin kita, bukanlah orang yang melahirkan dan membesarkan kita, dan mereka bukanlah alasan untuk meredupkan impian kita. Tetaplah hidup dengan dirimu, bukan dengan dirinya. Katakan saja, inilah  aku yang egois menurutmu. Inilah aku yang pemarah menurutmu. Inilah aku yang penyabar menurutmu. Inilah aku yang pemaaf menurutmu. Inilah aku yang apa adanya. Aku tidak begitu peduli dengan apa yang mereka katakan. Aku melakukan ini karena aku tahu dan aku memiliki alasannya.


Pada pidato Steve Jobs yang cukup terkenal di Standford University, ada kalimat yang begitu dalam pesannya, yakni “Ikutilah intuisimu. Jangan biarkan perkataan mereka menenggelamkan kata hatimu.” Jika kita menggunakan standar dari kaca mata orang lain untuk membuat  diri kita baik, maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah menjadi diri kita sendiri. Tetaplah rendah di hadapan-Nya, setara di antara sesama, dan tinggi akan cita-cita. Karena inilah aku... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Jenis Barang Laris Untuk Anak Boarding/Asrama/Pesantren

Siapa bilang kalo anak boarding itu gak bisa jualan. Salah besar kalo kamu berpresepsi seperti itu. Buktinya sudah banyak yang mencibanya dan berhasil. Sekarang giliran kamu. Untuk mengisi luang, ingin mencari pemasukan tambahan atau hanya sekedar menjalankan hobi, kamu bisa berjualan di lingkungan sekolahmu. Tapi..sebelum berjualan kamu harus mempunyai target pasar sehingga kamu mengetahui barang apa yang harus kamu jual. Baik, saya akan berbagi pengalaman kepada kamu barang apa saja yang kira-kira laku di lingkungan asrama/boarding. Ini berdasarkan pengalaman lho..  (sudah teruji)  1.   Jualan Makan Gopek-an Bagi pemula, kmau bisa mencoba berjualan makan ringan yang harganya murah, yang satuannya Rp. 500,- contoh barangnya seperti chocolates, Gerry, better, fullo, dll (bukan untuk promosi, Cuma contoh semata) jika kamu mengambil satu packnya ke agen makanan ringan, harganya kisaran Rp. 20.000,- dalam satu pack biasanya berisi 22 buah snack gopean. Walaupun unt...

Ada Apa dengan MONey DAY?

Bagi yang sudah bekerja atau sudah pernah magang di perusahaan, pasti akan senyam-senyum membaca judul ini. Seakan sudah mengeahu seisi dan alur jalan cerita ini. Haha. Mari kita lanjutkan. Jam 16.00 WIB ketika jam kantor akan berakhir, sudah mulai bisikan dari bilik-biliki dan sudut-sudut kantor. “Eh entar malem mau kemana?” “Weekend ini kemana?” “Eh main yuk!” “Yes besok libur!” “It’s Fridayyyyyy…” Yaya.. kurang lebih seperti itulah bunyi. Sebelum jam kerja berakhir, biasanya sudah ditanyakan atau menanyakan mau kemana saat akhir pekan atau intinya adalah mengajak refreshing. Sekilas terlihat biasa. Tidak ada yang salah. Eitss.. tunggu dulu. Kita sudah tidak asing mendengar ungkapan do what you love, love what you do. Namun ungkapan tersebut menjadi paradoks dengan realita kebanyakan orang menyambut akhir pekan. Kebanyakan mereka akan sangat senang bekerja di hari Jum’at karena mereka tau bahwasanya besoknya adalah hari libur. Padahal jika seseorang be...

Krisis Waktu Kehidupan Pasca Kampus

sumber poto:  https://www.kaskus.co.id/ Umumnya, seorang siswa SD dituntut untuk belajar sungguh agar masuk SMP favorit, kemudian SMA favorit, lalu Perguruan Tinggi Favorit, dan muara akhirnya adalah memiliki pekerjaan. Selama proses pendidikan berlangsung, umumnya setiap siswa dituntut untuk menjadi manusia yang juara di setiap mata pelajaran. Bila terdapat nilai yang di bawah standar, tidak jarang sang siswa mendapat omelan guru, orang tua, hingga keluarga besar. Padahal setiap anak dilahirkan dengan kemampuan dan keunikan yang berbeda-beda. Namun, sistem pendidikan yang telah berjalan sejak lama, tidak begitu menitik beratkan pada kelebihan dan potensi anak. Semua dipatok sama. Terlebih lagi pada nilai matematika. Dari fenomena tersebut, tidak sedikit siswa yang stress karena beban akademik. Namun tidak sedikit pula yang bertahan dan mampu melalui ujian di setiap jenjang. Ritme “manusia juara” rupanya tidak berhenti sampai bangku SMA. Kehidupan perkuliahan tidak...