Langsung ke konten utama

Tipe Konsumen


Untuk menarik konsumen, seorang marketer harus mengetahui tipe-tipe konsumennya. Dalam buku “MARKETING” karangan Wawan Kondo disebutkan ada 8 tipe konsumen, berikut tipe-tipenya:

1.      MUPENG : Muka Pengen
Sebenarnya dia sudah kalah satu langkah, pembeli yang seperti ini tinggal tinggal butuh diyakinkan saja. Selain itu ulang-ulang terus benefit/value dari produk kita. Kalo bahasa jawanya ‘diiming-imingi’. Lebih bagus lagi kalo kita sampaikan tesimoni orang, atau contoh orang yang sudah membeli.

2.      MUBENG : Muka Bengong
Dia masih bingung alias belum ngeh alias belum mudeng dengan penjelasan kita/promosi kita. Caranaya ya dijelasin ke dia sejelas-jelasnya. Pakai contoh, pakai gambar yang menarik.

3.      MULES : Muka Lesu
Bisa jadi dia ga tertarik dengan cara promosi kita alias kurang menarik atau memang benar-benar lesu. Cara menanganinya dengan LESU juga, yaitu LEbih baik SUdah. Artinya jangan dipaksakan harus hari ini diprospeknya. Mending pindah hari lain alias diulang di kesempatan yang berbeda. Kalo kita tetep nekat, dia (konsumen) justru bisa antipati dengan produk kita. So, nekat tidak disarankan.

4.      MUNAF : Muka Nafsu
Ini sudah tahap akhir, ini ga perlu diapa-apain, tinggal dicolek sedikit pasti langsung oke.

5.      MURAH : Muka Bergairah
Ini sama dengan tahap muka pengen alias mupeng, Cuma ini lebih di atasnya lagi. Artinya penangananya lebih mudah lagi. Caranya sentuh dia (buakan dalam arti sbenarnya). Meminjam lagunya Ari Lasso ‘’Sentuhlah dia tepat di hatinya, dia kan jadi milkmu selamanya’’. Puji dia, yakinkan dia akan semakin oke ketika mengkonsumsi produk kita.

Ex, “Halaaahh, Ya Allah, jadi keliatan bersinar lho Bu mukanya…cuantik deh”. Kuncinya kita jelasinnya harus antusias, dan berusaha untuk selalu di pihak dia(konsumen). Jadi kitan semacam 
menjadi teman pembeli yang sedangmemilih barang.

6.      MUSIK : Muka Berisik
Berarti dia terganggu dengan aktifitas kita, sudahi sampaikan maaf dan kembali lagi ke tempat itu dengan cara lain yang lebih konsumen suka.

7.      MUMET : Minum Obat donk!!
Lebih bai istirahat aja yuk kalo udah mumeet !!!!

8.      MUAL : Muka Almarhum
Banyak-banyak berdoa aja, semoga amal ibadahnya diterima.

Dari tipe-tipe konsumen di atas, para marketer diwajibkan bersabar dalam menanggapi renspons konsumen. Hormati mereka, jangan sampai mereka ga enak hati yang pada akhirnya batal membuat dealing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Jenis Barang Laris Untuk Anak Boarding/Asrama/Pesantren

Siapa bilang kalo anak boarding itu gak bisa jualan. Salah besar kalo kamu berpresepsi seperti itu. Buktinya sudah banyak yang mencibanya dan berhasil. Sekarang giliran kamu. Untuk mengisi luang, ingin mencari pemasukan tambahan atau hanya sekedar menjalankan hobi, kamu bisa berjualan di lingkungan sekolahmu. Tapi..sebelum berjualan kamu harus mempunyai target pasar sehingga kamu mengetahui barang apa yang harus kamu jual. Baik, saya akan berbagi pengalaman kepada kamu barang apa saja yang kira-kira laku di lingkungan asrama/boarding. Ini berdasarkan pengalaman lho..  (sudah teruji)  1.   Jualan Makan Gopek-an Bagi pemula, kmau bisa mencoba berjualan makan ringan yang harganya murah, yang satuannya Rp. 500,- contoh barangnya seperti chocolates, Gerry, better, fullo, dll (bukan untuk promosi, Cuma contoh semata) jika kamu mengambil satu packnya ke agen makanan ringan, harganya kisaran Rp. 20.000,- dalam satu pack biasanya berisi 22 buah snack gopean. Walaupun unt...
"Bisnis yang hanya menghasilkan uang adalah bisnis yang buruk" - Henry Ford -

Jangan Membusuk!

Foto: https://www.dreamstime.com “Stay hungry, stay foolish.” -Steve Jobs Mungkin engkau pernah mendengar sebuah nasihat, jangan pernah merasa matang, karena kalau sudah matang nanti jadi busuk. Maksudnya, ketika seseorang telah merasa pintar, ia akan mencukupkan dirinya dan enggan untuk belajar kembali sehingga ilmunya tidak bertambah. Itulah pelajaran yang dapat diambil dari filosofi buah. Mengenai hal tersebut, saya dihadapkan dengan peristiwa hikmah kemarin dan hari ini. Tanpa maksud untuk merendahkan atau melebihkan seseorang, tulisan ini murni untuk mengumpulkan hikmah yang berserak. Bila terdapat kesamaan cerita atau peran, anggaplah sebuah skenario Tuhan, dan Dia lah sebaik-baiknya pembuat rencana. Jadi, beberapa hari lalu salah seorang mentor bisnis saya memperlihatkan satu dua halaman sebuah buku ke dalam grup. Pesan yang tertera di buku tersebut akan mengajak merenung siapa pun pembacanya. Singkat cerita, saya pun menanyakan judul dari buku tersebut ke mento...